Kamis, 26 Desember 2013

Pengaruh Individu Konsumen



Pengaruh individu dalam perilaku konsumen merupakan salah satu faktor yang dapat menjadi acuan seorang konsumen dalam melakukan kegiatan pembelian. Setiap individu memiliki pemikiran yang berbeda-beda dalam menkonsumsi suatu barang atau jasa, namun adakalanya seorang individu dapat mempengaruhi individu lainnya dalam mengkonsumsi suatu barang atau jasa. Ada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi seorang individu, antara lain :
  • Faktor kebudayaan
Adalah faktor penentu keinginan dan perilaku seseorang yang paling mendasar. Jika makhluk yang lebih rendah perilakunya sebagian besar diatur oleh naluri, maka perilaku manusia sebagian besar adalah dipelajari.
  • Faktor  Sosial
Perilaku seorang konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial, seperti kelompok referensi keluarga, status, dan peranan sosial.
  • Faktor Pribadi
Keputusan pembelian juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi seperti umur dan tahapan daur hidup, pekerjaan, situasi ekonomi, gaya hidup, serta kepribadian dan konsep diri pembeli.
  • Faktor Psikologis
Pilihan seseorang membeli juga dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama, yaitu : motivasi, persepsi belajar, kepercayaan dan sikap.
Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa hal ini merupakan suatu tantangan bagi para pemasar untuk dapat membaca pikiran para individu agar individu tersebut memilih untuk mengkonsumsi barang atau jasa pemasar tersebut, sehingga para pemasar harus belajar dalam memahami apa yang diinginkan seorang individu melalui faktor-faktor yang telah dijelaskan, agar individu tersebut dapat memperoleh sesuai apa yang dia inginkan dan pemasar pun dapat memperoleh keuntungan.

Sumber :



Pengaruh Kelas Sosial dan Status





Kelas sosial adalah sebuah kelompok yang relatif homogen yang bertahan lama dala sebuah masyarakat , yang tersusun secara hierarki dan yang keanggotaanya mempunyai nilai minat dan perilak yang sama (philip kotler, 1993:225). Kelas sosial mempunyai beberapa karakteristik anatara lain :
1)      Orang-orag dalam setiap kelas sosial cenderung mempunyai perilaku yang serupa dibanding orang-orang yang berasal dari dua kelas sosial yang berbeda. 
2)      Seseorang dipandang mempnyai pekerjaan yang rendah atau tinggi sesuai dengan kelas sosialnya. 
3)      Kelas sosial seseorang dinyatakan dalm beberapa variabel seperti jabatan, pendapatan, kekayaan, pendidikan dan orientasi terhadap nilai daripada hanya berdasarkan sebuah variabel. 
4)      Seseorang mampu berpindah dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya, naik atau turun selama hidupnya.

Kelas sosial memegang peranan penting dalam suatu program pemasaran, karena adanya perbedaan substansial diantara kelas-kelas tersebut mempengaruhi perilaku pembelian mereka. Jadi sampai sejauh mana pemasar mampu mempromosikan produknya sehingga dirasa akan membantu keinginan konsumen untuk mencapai kelas sosial yang lebih tinggi. Dengan memahami perilaku konsumen antara masing-masing kelas sosial maka perusahaan dapat menyelenggarakan dan melaksanakan program-program pemasaran yang efektif dan efisien.
Sama halnya dengan kelas sosial, status juga menjadi pertimbangan yang cukup penting dalam proses mempromosikan segmen-segmen pasar berdasarkan kemampuan atau tingkat daya belinya. Sehingga secara tidak langsung status mempengaruhi gaya hidup seseorang.

Pengaruh Kebudayaan terhadap Pembelian dan Konsumsi




Berdasarkan Schifman  & Kanuk (2004), dalam bukunya yang berjudul Consumer Behavior, hal 408 menyatakan bahwa budaya adalah :
“Budaya adalah karakter masyarakat secara keseluruhan, termasuk di dalam nya beberapa faktor yang meliputi bahasa, pengetahuan, hukum, agama, kebiasaan makan, musik, seni, teknologi, pola kerja, produk, dan ciri lainnya yang memberikan perbedaan warna dari masyarakat lainnya”
Sifat dari kebudayaan sangat luas dan menyangkut segala aspek kehidupan manusia. Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengertian, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan terdiri dari segala sesuatu yang dipelajari dari pola-pola prilaku yang normatif, yaitu mencakup segala cara-cara atau pola berpikir, merasakan dan bertindak. Secara definitif kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar. Mempelajari perilaku konsumen adalah mempelajari perilaku manusia, sehingga perilaku konsumen juga ditentukan oleh kebudayaan yang tercermin pada cara hidup, kebiasaan, dan tradisi dalam permintaan akan bermacam-macam barang dan jasa. Jadi perilaku konsumen sangat ditentukan oleh budaya yang melingkupinya, dan pengaruhnya akan selalu berubah setiap waktu sesuai dengan kemajuan atau perkembangan zaman dan masyarakat itu. Sedangkan kebudayaan khusus merupakan bagian yang integral sebab kebudayaan ini timbul karena faktor ras, kebangsaan, agama, lokasi, geografis, distribusi dll.
Kebudayaan khusus ini memainkan peranan penting dalam pembentukan sikap konsumen dan merupakan petunjuk penting mengenai nilai-nilai yang akan dianut oleh konsumen. Pengidentifikasian penting bagi strategi pemasaran, termasuk didalamnya segmentasi, pengembangan produk baru, promosi dan kegiatan-kegiatan distribusi.

Mempengaruhi Sikap dan Perilaku



Pengertian Sikap
Sikap merupakan interaksi manusia dengan objek tertentu. Sikap bukanlah suatu tindakan yang mempunyai hubungan yang saling terkait antara objek yang satu dengan yang lainnya. Adapun definisi sikap yng dikemukakan oleh beberapa ahli, antara lain:
Menurut LL. Thurstone: sikap adalah tingkat kecenderungan yang bersifat positif ataunegatif yang berhubungan dengan objek psikologis yang berupa simbol-simbol, rata-rata, slogan-slogan, orang, lembaga, ide dan sebagainnya. (Bimo Walgito, 1983: 51)
Menurut D. Krech dan Crutch Field: Sikap adalah organisasi yang tepat dari proses motivasi, emosi, persepsi, atau pengamatan atas suatu aspek dari kehidupan individu. (Siti Partini, 1989:61)
Dari definisi diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sikap merupakan sesuatu yang mengarah pada tujuan yang dihadapi dalam bentuk tindakan, ucapan, perbuatan maupun emosi seseorang. Sikap konsumen merupakan sesuatu kecenderungan yang dipelajari untuk bereaksi terhadap penawaran produk dalam masalah-masalah yang baik ataupun kurang baik secara konsekuen. Sikap melibatkan tiga komponen yang saling berhubungan antara lain:

  •  Komponen kognitif, yaitu berupa pengetahuan, kepercayaan atau pikiran yang didasarkan pada informasi yang berhubungan dengan objek.
  •  Komponen Afektif, yaitu menunjukan pada dimensi emosional dari sikap yang emosi yang berhubungan dengan objek. Objek disini dirasakan sebagai menyenangkan atau tidak menyenangkan.
  •  Komponen perilaku, yaitu melibatkan salah satu predisposisis bertindak terhadap objek.

Dalam pemasaran seseorang telah melakukan suatu sikap positif atau negatif terhadap produk-produk tertentu, sikap ini dilakukan berdasarkan pandangan seseorang terhadap produk dan proses belajar baik dari pengalaman ataupun dari yang lain. Dengan demikian sikap dapat didefinisikan sebagai berikut: Sikap adalah suatu kecenderunagn yang dipelajari untuk menaksirkan terhadap penawaran produk dalam masalah yang baik maupun kurang baik secara konsisten.(Basu Swastha dan Irwan, 1980)
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap itu merupakan kecenderungan yang dipelajari untuk bereaksi terhadap penawaran produk dalam masalah yang baik maupun masalah yang tidak baik secara konsisten. Apabila seseorang mempunyai sikap yang positif terhadap produk yang dijual, maka kita akan berusaha mempertahkan sikap mereka terhadap produk yang dijual. Dan sebaliknya apabila seseorang mempunyai sikap yang negatif terhadap produk yang dijual maka kita berusaha sesuatu agar sikap tersebut positif. Jadi dengan mempelajari sikap seseorang diharapkan dapat menentukan apa yang akan dilakukannya.

Kepribadian Nilai dan Gaya Hidup



Kepribadian Nilai dan Gaya Hidup

Kepribadian adalah pola sifat individu yang dapat menentukan tanggapan untuk bertingkah laku. Kepribadian mencakup kebiasan-kebiasaan, sikap dan ciri-ciri sifat dan watak yang khusus yang menetukan perbedaan perilaku dari tiap-tiap individu, dan yang berkembang apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain.
sedangkan nilai merupakan ukuran mengenai baik dan buruk, benar dan salah, pantas dan tak pantas. Nilai sangat mencerminkan suatu kualitas pilihan dalam tindakan dan hal apapun termasuk melakukan pembelian.
Jadi dapat disimpulkan kepribadian nilai merupakan suatu sifat individu dalam melakukan proses pembelian dengan pertimbangan kebiasaan, pantas atau tidak pantas untuk memperoleh sesuatu produk barang maupun jasa sesuai yang diiinginkan.

Gaya hidup (Life style)
Dari pengamatan yang dilakukan, seseorang yang memiliki jenis pekerjaan, posisi jabatan dan tingkat penghasilan yang relatif tinggi, lazimnya lebih memilih lokasi tempat tinggal yang tidak terlalu padat penduduknya. Memilih tempat tinggal yang relatif aman dari kemungkinan terjadinya berbagai resiko serta teratur dalam penataan lingkungannya. Demikian juga biasanya memilih jenis kendaraan yang memiliki tingkat keselamatan relatif baik. Kemudian apabila melakukan perjalanan jarak jauh dan harus menggunakan transportasi udara , lebih memilih maskapai penerbangan yang merekap jejak tingkat kecelakannya relatif kecil.
Apabila dari rumah ke Bandara tidak menggunakan kendaraan sendiri, biasanya ia lebih suka menelefon taksi untuk menjemputnya di rumah. Selanjutnya bila kita mempelajari lebih jauh tentang kebiasaan yang mereka lakukan terutama benda-benda yang melekat dibadan , seperti pakaian dan aksesoris lainnya, pada umumnya dipilih yang memiliki kualitas dan presisi tinggi, lazimnya harganya mahal dan barang yang mahal biasanya dibuat oleh perusahaan yang dikenal luas yang di indonesia khalayak menyebutnya dengan barang bermerek.
Gambaran diatas merupakan sebagian contoh dari sekian banyak gaya hidup(life style) yang dianut seseorang dalam kehidupan bermasyarakat. Ternyata gaya hidup ini memiliki korelasi yang erat dengan jenis pekerjaan, posisi di organisasi, dan tingkat pendapatan.  Sehingga mempengaruhi juga perilaku konsumen dal pembelian atau perbelanjaan untuk memenuhi kebutuhannya.
Dari paparan diatas maka sebaiknya kita sebagai konsumen harus bisa lebih bijaksana dalam pembelian barang atau jasa sesuai kebutuhan dan kemampuan kita agar tidak menjadi konsumen yang konsumtif.

Sumber : 
Perilaku konsumen (Dr. H. Mulyadi Nitisusastro)
Konsep Dasar riset pemasaran & perilaku konsumen (Drs. danang Sunyoto, SH., SE., MM)